Kehidupan Manusia Masa Perundagian

Kehidupan Manusia Masa Perundagian – Dalam masa bercocok tanam manusia bertempat tinggal tetap di desa-desa serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan bersama yang dipusatkan kepada penghasilan makanan dari hasil pertanian dan peternakan.

Dalam masa bertempat tinggal tetap, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan guna mencapai hasil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegiatannya makin beraneka ragam. Ada yang mengerjakan pertanian, peternakan, membuat keranjang, membuat gerabah, barang-barang dari batu atau perunggu, dan ada pula yang bepergian ke tempat-tempat lain untuk menukar barang-barang bawaannya dengan barang-barang yang tidak dihasilkan di desa tempat tinggalnya. Kegiatan mereka merupakan permulaan dari kegiatan perdagangan.

Beraneka ragamnya macam pekerjaan memerlukan adanya pembagian kerja dalam masyarakat. Maka timbullah golongan yang terampil dalam melakukan suatu jenis pekerjaan. Mereka itu disebut golongan undagi (teknologi). Zaman kehidupan masyarakat prasejarah dengan berkembangnya kegiatan golongan undagi disebut zaman perundagian.

masa perundagian

Masa perundagian

Pada masa perundagian, manusia telah dapat membuat alat-alat dari perunggu dan besi. Pembuatan barang-barang perunggu maupun besi memerlukan keahlian. Oleh karena itu pada masa perundagian terdapat kelompok yang mempunyai keahlian khusus untuk membuat barang-barang dari logam. Bahan-bahan untuk pembuatan barang-barang dari perunggu maupun besi tidak terdapat di setiap daerah. Karena itu terpaksa didatangkan dari daerah lain. Untuk keperluan itu, terjadilah perdagangan, yang kadang-kadang berlangsung meliputi berbagai daerah atau pulau-pulau. Pada masa perundagian hubungan antar daerah di indonesia makin meningkat.

Kemajuan dalam membuat alat-alat logam, terutama alat-alat pertanian seperti pisau dan bajak, berpengaruh pada cara bercocok tanam. Sistem berladang banyak berganti dengan sistem bersawah. Cara bersawah memungkinkan hasil yang lebih banyak, sehingga melebihi yang diperlukan. Kelebihan itu dapat diperdagangkan, sehingga lebih meningkatkan kemakmuran masyarakat.

Kehidupan perdagangan semakin maju. Disamping pembuatan barang-barang dari perunggu, pembuatan gerabah mengalami kemajuan pesat, terutama pada teknik pembuatannya.

Kepercayaan Manusia Masa Perundagian

Pada masa perundagian memiliki sistem kepercayaan yang tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Praktek kepercayaan yang mereka lakukan masih berupa pemujaan terhadap leluhur. Hal yang membedakannya adalah alat yang digunakan untuk praktek kepercayaan. Pada masa perundagian, benda-benda yang digunakan untuk praktek kepercayaan biasanya terbuat dari bahan perunggu. Sistem kepercayaan yang dilakukan oleh manusia pada zaman perundagian masih memelihara hubungan dengan orang yang meninggal. Pada masa ini, praktek penguburan menunjukkan stratifikasi sosial antara orang yang terpandang dengan rakyat biasa. Kuburan orang-orang terpandang selalu dibekali dengan barang-barang yang mewah dan upacara yang dilakukan dengan cara diarak oleh orang banyak. Sebaliknya, apabila yang meninggal orang biasa, upacaranya sederhana dan kuburan mereka tanpa dibekali dengan barang-barang mewah.

Upacara sebagai bentuk ritual kepercayaan mengalami perkembangan. Mereka melakukan upacara tidak hanya berkaitan dengan leluhur, akan tetapi berkaitan dengan mata pencaharian hidup yang mereka lakukan. Misalnya ada upacara khusus yang dilakukan oleh masyarakat pantai khususnya para nelayan. Upacara yang dilakukan oleh masyarakat pantai ini, yaitu penyembahan kekuatan yang dianggap sebagai penguasa pantai. Penguasa inilah yang mereka anggap memberikan kemakmuran kehidupannya. Sedang di daerah pedalaman atau pertanian ada upacara persembahan kepada kekuatan yang dianggap sebagai pemberi berkah terhadap hasil pertanian.

Hasil Kebudayaan Masa Perundagian

Nekara perunggu, Berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk memohon turun hujan dan sebagai genderang perang; memiliki pola hias yang beragam, dari pola binatang, geometris, dan tumbuh-tumbuhan, ada pula yang tak bermotif; banyak ditemukan di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Selayar, Papua.

Kapak perunggu, Bentuknya beraneka ragam. Ada yang berbentuk pahat, jantung, atau tembilang; motifnya berpola topang mata atau geometris.

Bejana perunggu, Bentuknya mirip gitar Spanyol tanpa tangkai; di temukan di Madura dan Sulawesi.

Arca perunggu, Berbentuk orang sedang menari, menaiki kuda, atau memegang busur panah; ditemukan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor, Palembang.

Perhiasan dan manik-manik, Ada yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi; berbentuk gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, bandul; banyak ditemukan di Bogor, Bali, dan Malang; sedangkan manik-manik banyak ditemukan di Sangiran, Pasemah, Gilimanuk, Bogor, Besuki, Bone; berfungsi sebagai bekal kubur; bentuknya ada yang silinder, bulat, segi enam, atau oval.


Facebook Twitter

Sponsored Ads
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *