Latar Belakang Pembentukan KAA (Konferensi Asia-Afrika)

Latar Belakang Pembentukan KAA (Konferensi Asia-Afrika)Pasca perang dunia ke-2 banyak negara-negara di kawasan asia dan afrika masih dijajah oleh penjajahnya. Contoh : Malaysia dan Singapura masih dijajah oleh Inggris, Kongo masih dijajah Belgia, dan masih banyak lagi. Di daerah jajahan masih hidup dalam kekurangan, miskin, tidak berpendidikan, dan diliputi peraseen rendah diri. Sebagai pemlik sah bumi, alam negerinya sendiri, mereka tidak dapat memanfaaatkan kekayaan tersebut karena mereka dijajah.

Selain itu bangsa-bangsa asia yang sudah merdeka masih belum mendapat kesadaran untuk bersatu. Misalnya, China bersengketa dengan taiwan untuk memperebutkan pulau Quemoi. Ditambah lagi PBB tidak mampu menyelesaikan persengketaan antara bangsa-bangsa yang bersengketa. Sementara itu dunia sedang diliputi oleh adanya persengketaan antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet beserta sekutu-sekutunya mengenai perkembangan persenjatan modern. Hal-hal itulah yang menjadi latar belakang penyebab berdirinya Konferensi Asia Afrika.

KAA yang awalnya dipandang Negara Barat sebagai ide konyol dan sulit diwujudkan, menjelma menjadi kekuatan baru yang ditakuti Amerika Serikat dan Uni Soviet, 2 kekuatan yang mewakili Blok Barat dan Blok Timur. Ide menyatukan negara-negara Asia dan Afrika digagas Indonesia dan didiskusikan dalam Konferensi Kolombo yang dihadiri Indonesia, India, Pakistan, Birma, dan Srilanka.

Konferensi Kolombo dilanjutkan dengan pertemuan 5 negara tersebut di Bogor, Jawa Barat pada Desember 1954 dan merestui Indonesia sebagai tuan rumah KAA.

18 April 1955 ide mengumpulkan negara-negara Asia Afrika akhirnya benar-benar terjadi. Bandung diramaikan oleh rombongan pimpinan dan delegasi 29 negara Asia Afrika, serta warga yang menyambut gembira pelaksanaan KAA.

KAA menjadi momentum hadirnya kekuatan baru selain Blok Barat dan Blok Timur. 18 April 1955 Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat menjadi tempat berlangsungnya KAA.

gedung merdeka

Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang “pernyataan mengenai dukungan bagi kerusuhan dan kerjasama dunia”. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru.

Berikut isi dari Dasasila Bandung:

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa),
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa,
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil,
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain,
  5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB,
  6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain,
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara,
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB,
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama,
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional.

 


Facebook Twitter

Sponsored Ads
loading...

One comment on “Latar Belakang Pembentukan KAA (Konferensi Asia-Afrika)

  1. Aswaliah says:

    Trimakasih atas bantuannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *