Sejarah Berdirinya Kerajaan Mataram

Kenaikan penyakit tidak menular di seluruh dunia selama lima dekade terakhir membuat kolesterol menjadi topik hangat. Ada urgensi antara individu-individu untuk mengumpulkan informasi yang benar tentang kolesterol. Kolesterol adalah senyawa kimia yang ditemukan pada hewan, yang terdiri dari asam lemak dan steroid.

Adapun raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Mataram diantaranya : Raja Sanna, Raja Sanjaya, Raja Indra, dll. Peninggalan-peninggalan dari kerajaan ini yang terkenal adalah : Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Gedung Songo, candi Arjuna, Candi Dieng, Candi Kalasan. Peninggalan dalam bidang sastra, diantaranya Kitab Arjuna Wiwaha.

Letak : di Jawa Tengah

Berdiri: abad ke-8 M

Sumber Sejarah Kerajaan Mataram

Beberapa sumber sejarah dari kerajaan mataram Berupa prasasti, berhuruf Pallawa, dan berbahasa Sanskerta.

Prasasti Canggal (732 M)

Berisi tentang Raja Sanjaya mendirikan Lingga di atas Bukit Kunjarakunja (di Gunung Wukir).

Prasasti Kalasan (778 M)

Berisi tentang Syailendra membujuk Panangkaran untuk mendirikan bangunan suci untuk Dewi Tara (istri Budha).

Prasasti Kelurak (782 M)

Berisi tentang Raja Indra membuat bangunan suci dan arca Manjusri.

Prasasti Karang Tengah (824 M)

Berisi tentang Raja Samaratungga mendirikan bangunan suci di Wememana (Bumi Sambhara Borobudur).

Prasasti Balitung/Kedu/Mantyasih (907 M)

Berisi tentang silsilah raja-raja Mataram dari Sanjaya sampai Balitung.

Bangunan Candi Peninggalan Kerajaan Mataram

Kedua dinasti ini sama-sama meninggalkan bangunan candi. yaitu:

  • Peninggalan candi Dinasti Sanjaya: Prambanan, Dieng, Gedong Songo, Pring Apus, Selogrio.
  • Peninggalan candi Dinasti Syailendra: Borobudur, Mendut, Pawon, Kalasan, Sari, Sewu, Ngawen.

Setelah Panangkaran wafat, Kerajaan Mataram Lama pecah menjadi dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya (Hindu) yang berkuasa di Jawa Tengah bagian Utara dan Dinasti Syailendra (Budha) yang berkuasa di Jawa Tengah bagian Selatan.

Kedua dinasti ini dapat dipersatukan kembali pada masa Raja Samaratungga dengan cara mengawinkan putrinya Pramudyawardhani dengan Rakai Pikatan (Dinasti Syailendra), tetapi dihalang-halangi oleh Balaputradewa, kemudian terjadi perselisihan. Akhirnya Balaputradewa kalah dan melarikan diri ke Sumatra kemudian menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Puncak kejayaannya pada masa diperintah oleh Raja Balitung, tetap dalam perkembangannya pada tahun 929 pusat Kerajaan Mataram Kuno dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Watugaluh) oleh Empu Sendok, yang kemudian dianggap sebagai pendiri Dinasti Isyana.

Pada masa pemerintahan Dharmawangsa, mengalami kehancuran yang disebabkan adanya serangan dari tentara Wurawari (Sriwijaya), saat Dharmawangsa menikahkan putrinya dengan Airlangga (putra raja Kerajaan Bali). Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Pralaya Medang. Pada masa pemenintahan Empu Sendok muncul karya sastra yaitu Sang Hyang Kamahayanikan.

Kemudian Airlangga dinobatkan menjadi raja tahun 1019 M, bergelar Sri Maharaja Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Ananta Wikramatunggadewa. Di bawah pemerintahan Medang Kamulan mencapai kejayaan dan kemakmurannya. Pengalaman hidup dan keberhasilan Airlangga ini secara simbolik dikisahkan dalam kitab Arjunawiwaha yang digubah oleh Empu Kanwa.

Di akhir masa pemerintahannya dan memutuskan untuk mundur menjadi pertapa dengan sebutan Resi Gentayu. Airlangga membagi dua kerajannya yaitu Jenggala dengan ibu kota Kahuripan dan Panjalu (Kediri) dengan ibu kota Daha. Pembagian ini dilakukan oleh Empu Barada, dan tahta pemerintahan diberikan kepada putranya dari selir yaitu Mapanji Garasakan. Sedangkan putrinya yang lahir dari permaisuri memilih menjadi pertapa. Airlangga sendiri wafat tahun 1049, jenazahnya disemayamkan di Lereng Gunung Penanggungan dalam kompleks Candi Belahan.


Facebook Twitter

Sponsored Ads
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *