Apa itu Burnout? dan apa penyebabnya?

Burnout adalah anglisisme yang dapat diterjemahkan sebagai “sindrom pekerja yang terbakar”. Ini digunakan di bidang kesehatan untuk merujuk pada gangguan asal emosional, dengan implikasi psikologis dan fisik, yang disebabkan oleh tingginya tingkat stres yang berkelanjutan di lingkungan kerja.

Ia juga dikenal sebagai sindrom gesekan profesional, sindrom pekerja usang, sindrom terbakar, antara lain.

Sindrom Burnout pertama kali dideskripsikan pada tahun 1969 oleh psikolog HB Bradley saat melakukan penelitian tentang praktik terbaik di pusat pemasyarakatan bagi para pelaku remaja, dan menggambarkannya sebagai fenomena psikososial yang diderita oleh petugas polisi.

Pada 1974, Herbert Freudenberger memperluas gagasan burnout dan memindahkannya ke tempat kerja, memastikan bahwa kelebihan beban kerja menyebabkan, di antara gejala-gejala lainnya, perasaan kelelahan dan ketidakpuasan.

Enam tahun kemudian, ia akan menerbitkan buku berjudul The High Cost of High Achievement , yang akan menjadi referensi tentang sindrom tersebut.

Penyebab Burnout

Secara umum, penyebab burnout terkait dengan keadaan stres kronis, seringkali disebabkan oleh tanggung jawab kerja yang berlebihan, atau oleh kondisi ketidakpastian di lingkungan kerja. Pemicu lain dapat:

  • Harapan tenaga kerja yang rendah dihasilkan oleh tidak adanya kemungkinan pertumbuhan dalam perusahaan.
  • Dinamika pekerjaan yang bermusuhan disebabkan oleh kurangnya persahabatan, kegagalan komunikasi, dll.
  • Rutinitas kerja yang berulang.
  • Profesional dan / atau isolasi pribadi, yang mengakibatkan kurangnya dukungan sosial.
  • Ketidakcocokan antara nilai-nilai perusahaan dan nilai-nilai pekerja, ini menyebabkan adaptasi terhadap norma-norma atau prinsip-prinsip tertentu yang tidak dimiliki bersama dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan ketidaknyamanan.

Semua hal di atas dapat menghasilkan serangkaian gejala psikosomatik yang melemahkan pekerja dan berdampak langsung pada kinerja mereka.

Karakteristik sindrom Burnout

Dari tahun 1980-an, penelitian mendalam pertama tentang burnout dilakukan, setelah tiga dimensi ditetapkan untuk pendekatan sindrom: kelelahan emosional, pelepasan mental dari pekerjaan yang dilakukan (atau dari tempat kerja) dan penurunan pemenuhan pribadi

Ketiga tepi sindrom ini dapat bermanifestasi dalam berbagai gejala, di antaranya ketidaknyamanan fisik, seperti sakit kepala atau sakit perut, penurunan kinerja pribadi dan profesional dan, dalam kasus yang paling parah, anhedonia (tidak adanya kenikmatan sebagian atau total) dan depresi.

Meskipun burnout tidak berkurang ke area kerja tertentu, kecenderungan yang lebih besar untuk penderitaan telah terdeteksi pada para pekerja yang memiliki tingkat interaksi manusia yang tinggi, seperti:

  • Profesional kesehatan (dokter, perawat, terapis, konselor).
  • Pejabat publik (pekerja sosial, polisi, petugas pemadam kebakaran).
  • Staf penjualan langsung (karyawan pusat panggilan, layanan pelanggan, penjual produk konsumsi massal).
  • Pekerja administratif (resepsionis, asisten, pekerja kantor).
  • Sindrom Burnout juga telah diamati pada orang-orang yang aktivitas profesionalnya memiliki tingkat pengawasan yang tinggi, seperti atlet profesional atau eksekutif bisnis senior.

Burnout sebagai masalah kesehatan

Meskipun sindrom pekerja yang usang pada awalnya didekati sebagai fenomena sosial dengan implikasi psikologis dan fisik, hari ini kompleksitas dan tingkat kelelahan dalam kualitas hidup pekerja dipahami.

Dalam hal itu, Organisasi Kesehatan Dunia memasukkan burnout dalam katalog penyakit dan cedera yang dikenal sebagai ICD-11, di mana ia digambarkan sebagai sindrom yang disebabkan oleh stres kerja kronis, dan oleh karena itu, hanya istilah yang harus dirujuk ke dalam konteks kerja.

Dalam hal ini, hanya tenaga kesehatan yang dilatih untuk mendiagnosis kelelahan dan membuat rekomendasi yang relevan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *