Hukum Menulis Cerita Fiksi adalah sebagai berikut

Menurut hemat kami, menulis cerita fiksi hukumnya boleh tetapi dengan syarat :

  1. pembuat cerita fiksi wajib menyampaikan kepada pembacanya, baik secara implisit atau eksplisit, bahwa apa yang diucapkan atau ditulisnya adalah cerita fiksi atau khayalan belaka, bukan kenyataan, agar pengarang cerita fiksi tidak jatuh dalam kebohongan.
  2. kandungan cerita berisi tamsilan-tamsilan yang baik, seperti ajakan beramar makruf nahi mungkar, berbakti kepada orang tua, bersikap jujur, mendorong berani berjihad di jalan Allah, dan sebagainya.

Nabi SAW bersabda :

حَدِّثُوا عَنْ بَنِي إسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ

Artinya : Ceritakanlah cerita dari Bani Israil dan itu tidak mengapa. (H.R. Abu Daud. al-Shakhawi mengatakan, asalnya shahih)

Pada riwayat Ibnu Muni’, Tamam dan al-Dailami ada tambahan :

فَإِنَّهُ كَانَتْ فِيهِمْ أَعَاجِيبُ

Artinya : karena pada cerita mereka ada unik dan menarik

Nabi SAW membolehkan menyampaikan cerita- cerita dari Bani Israil, padahal kita memaklumi bahwa cerita- cerita itu sulit dipertanggung jawabkan kebenarannya. Kebolehan itu karena cerita itu menjadi i’tibar dan tentunya ini dengan syarat tidak menganggap cerita itu adalah benar.

Dalam Tuhfah al-Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitamy yang mengatakan :

وَمِنْهُ يُؤْخَذُ حِلُّ سَمَاعِ الْأَعَاجِيبِ وَالْغَرَائِبِ مِنْ كُلٍّ مَا لَا يَتَيَقَّنُ كَذِبَهُ بِقَصْدِ الْفُرْجَةِ بَلْ وَمَا يَتَيَقَّنُ كَذِبَهُ لَكِنْ قَصَدَ بِهِ ضَرْبَ الْأَمْثَالِ وَالْمَوَاعِظِ وَتَعْلِيمَ نَحْوِ الشَّجَاعَةِ عَلَى أَلْسِنَةِ آدَمِيِّينَ أَوْ حَيَوَانَاتٍ

“Dari itu dipahami boleh mendengarkan cerita-cerita yang unik dan menarik berupa cerita-cerita yang tidak diyakini kebohongannya dengan tujuan hiburan. Bahkan boleh juga mendengar cerita-cerita yang sudah diketahui secara pasti kebohongannya, akan  tetapi dengan syarat maksud dari membawakan cerita tersebut untuk membuat permisalan, sebagai nasihat dan menanamkan sifat seperti berani, baik tokoh dalam cerita tersebut manusia ataupun hewan”

Related Posts