Kendala-kendala Menyimak adalah sebagai berikut

Dalam proses menyimak ada beberapa kendala yang sering ditemui para penyimak. Russel dan Black (dalam Marlina 2007:27-30) menyatakan ada tujuh kendala dalam menyimak sebagai berikut.

  • Keegosentrisan, yaitu sifat mementingkan diri sendiri (egois) mungkin saja merupakan cara hidup sebagian orang. Dia lebih senang didengar orang daripada mendengarkan pendapat orang lain. Sifat seperti ini merupakan kendala dalam menyimak.
  • Keengganan untuk terlibat. Keengganan menanggung resiko, jelas menghalangi kegiatan menyimak karena menyimak adalah salah satu kegiatan yang harus melibatkan diri dengan sang pembicara.
  • Ketakutan dan perubahan. Apabila ingin menjadi penyimak yang baik, harus rela mengubah pendapat bahkan bila perlu harus berani mengubah dan menukar pendapat sendiri kalau memang ada pendapat atau gagasan yang lebih diandalkan dari orang lain.
  • Keinginan untuk menghindari pertanyaan, dengan alasan jawaban yang diberikan akan memalukan, hal ini merupakan kendala dalam diskusi, kegiatan berbicara, dan menyimak.
  • Puas terhadap penampilan eksternal. Apabila merasa puas dengan tanda simpatik itu maka kita akan gagal menyimak lebih intensif lagi untuk melihat kalau pengertian itu benar-benar wajar. Orang yang merasa cepat puas karena telah mengetahui maksud pembicara berarti tergolong penyimak yang tidak baik.
  • Pertimbangan yang prematur, apabila ada sesuatu yang prematur, maka itu merupakan sesuatu yang tidak wajar. Hal itu merupakan contoh penyimak yang jelek, dan sifat seperti itu justru menghalanginya menjadi penyimak yang efektif.
  • Kebingungan semantik. Makna suatu kata tergantung kepada individu yang memakainya dalam situasi tertentu dan waktu tertentu. Seseorang yang ingin menjadi penyimak yang efektif harus mempunyai kosakata yang memadai.

Jadi, dalam kegiatan menyimak terdapat kendala yang ditemui oleh penyimak. Kendala tersebut, yaitu keegosentrisan, keenganan ikut terlibat, ketakutan akan perubahan, keinginan menghindari pertanyaan, puas terhadap penampilan eksternal, pertimbangan yang prematur, dan kebingungan semantik.

Related Posts