Pengukuran Membaca Cepat adalah sebagai berikut

Tampubolon (1990:7) menyatakan bahwa kemampuan membaca adalah kecepatan dalam membaca disertai dengan pemahaman isi. Oleh karena itu, kemampuan membaca dapat juga ditingkatkan dengan cara penguasaan teknik-teknik membaca efisien dan efektif. Selain dari kecepatan membaca, pemahaman juga harus diukur. Mengukur pemahan isi bacaan (PI) secara keseluruhan dilakukan dengan cara menghitung persentase skor jawaban yang benar atas skor jawaban ideal dari pertanyaan-pertanyaan tes pemahaman bacaan tersebut. Prrosenya dapat digambarkan sebagai berikut:

Untuk mengukur  KEM seseorang, kedua aspek tersebut harus diintegrasikan. Menurut D.P. Tampubolon (1990), hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

KM      = kemampuan membaca

KB      = jumlah kata yang terdapat dalam bacaan

SM      = jumlah skor membaca

KPM   = jumlah kata per menit

PI        = persentase pemahaman isi

Berbeda dengan Tampubolon, Harjasujana (1988) mengajukan rumus kemampuan membaca sebagai berikut:

Keterangan:

p          = jumlah kata yang terdapat dalam bacaan

q          = jumlah waktu dalam hitungan detik

r           = jumlah jawaban yang benar (Samsu Somadoyo, 2011:55).

Kemampuan membaca ialah kecepatan membaca dan pemahaman isi bacaan. Cara mengukur kemapuan membaca ialah: Jumlah kata yang dapat di baca permenit dikalikan dengan persentase pemahaman isi bacaan. Misalnya, jika yang dapat Anda baca per menit adalah 200 kata, dan jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan isi bacaan itu adalah 60%, maka kemampuan baca Anda adalah 200 x 60% = 120 kpm (kata per menit). Jika diterima bahwa lulusan SLTA diharapkan memiliki kecepatan membaca minimum 250 kata per menit dengan pemahaman minimum 70%, maka kemampuan membca minimum lulusan SLTA ialah 250 x 70% = 175 kpm (Tampubolon, 1987:11). Jika waktu baca Anda memakai ukur dalam sekon, maka cara menghitung kemampuan membaca Anda adalah sebagai berikut: (Tampubolon, 1987:12). “Nuttal (1982:37) menyatakan bahwa ketika seseorang membaca, kemudian tidak memahami bahan bacaannya, maka kegiatan membaca yang dilakukan tersebut akan tidak berarti apa-apa. Untuk itu, aspek yang penting dalam kemampuan membaca seseorang adalah aspek pemahaman” (Samsu Somadoyo, 2011:54).

Related Posts