Politik Luar Negeri Kerajaan Majapahit

Politik Luar Negeri Kerajaan Majapahit – Pergantian dinasti pada kerajaan cina, dari dinasti yuan (kubhilai khan) ke dinasti ming (1368 – 1644) mengubah sikap politik luar negeri kerajaan majapahit. Dinasti yang menghidupkan kembali ekspansi ke nanyang (negeri-negeri selatan).

Untuk menghadapi politik cina terebut, dewan batara sapta prabu memutuskan untuk menciptakan persatuan antara negar-negara di asia tenggara. Arah politik itu harus dilaksanakan oleh dewan eksekutif.

Persatuan itu berhasil diciptakan dalam bentuk Mitreka Satata, yakni persahabatan yang kekal dengan dasar persamaan derajat. Mitreka berasal dari kata mitra dan ika (mitra = sahabat; ika = itu) Satata berarti satu tata (sama derajat dan kekal).

Mpu prapanca menyatakan dalam kitab kertagama sebagai berikut:

“nahan lwir ning di antara kacaya ri narapati tuhun tang syangkovad dapura kimutang dharmanagari, marutma mwang riang rajapura nguniweh singhanagari, campa, kambonyanyat i yawana mitreka satata”

Yang artinya: “ Demikianlah, diantara negara-negara yang bersekutu dengan sang raja terhitung diantaranya: Syangka (Muangthai), Dharmanagari (Kedah), Marutma (Singapura), Campa, Kambonyanyat (Kamboja) dan Yawana (Annam).”

Kedelapan negara itu bersama-sama dengan majapahit sebagai negara kesembilan terikat dalam suatu persahabatan kekal, yaitu Mitreka Satata.

Dinasti ming menyadari bahwa pelaksanaan ekspansi dengan kekerasan akan mendapat perlawanan keras dari nanyang, seperti terjadi pada ekspansi yang dilakukan oeh kubilai khan terhadap singhasari pada tahun 1293. Lain pada itu adanya mitreka satata di asia tenggara merupakan rintangan besar bagi ekspansi ming. Oleh karena itu, dinasti ming mencari kelemahan-kelemahan asia tenggara untuk dapat diterobos.

Dinasti ming melakukan kontra-diplomasi terhadap diplomasi yang terus dilakukan oleh Adityawarman. Pemerintah ming membawa seorang putri cina yang cantik dan dipersembahkan kepada raja majapahit. Putri cina itu menjadi permaisuri raja majapahit. Konon terjadi persaingan antara putri cina dan putri campa yang keduanya adalah permaisuri raja majapahit. Persaingan permaisuri ini membawa dampak politik dengan terjadinya ketegangan antara majapahit dengan campa. Jelas bahwa cina telah melakukan politik subversi terhadap kestabilan politik majapahit yang sebenarnya telah goyah dan memecahkan ikatan mitreka satata.

Jalan ke nanyang telah terbuka bagi dinasti ming. Keyakinannya itu diwujudkan dalam ekspedisi tentara yang besar ke nanyang, yang di pimpin oleh laksamana Cheng-ho pada tahun 1405. Cheng-ho mengajukan tuntutan kepada negara-negara selatan agar mengakui kekuatan cina atas mereka. Ia singgah di Tubah, Gresik, Palembang, dan Malaka.

Di majapahit ia menyaksikan perang paregreg, tetapi ia tidak mencampurinya. Mungkin ia berpendapat, bahwa majapahit akan lemah dengan sendirinya dan akhirnya akan mengakui kekuasaan cina.

Pembantu utama Cheng-ho, Ma-huan yang beragama islam menggambarkan keadaan majapahit pada bukunya yang berjudul Ying-yai Sheng-lan (perjalanan ke daerah selatan), sebagai berikut: masyarakat majapahit di daerah pantai telah beragama islam, tetapi di pedalaman sebagian besar masih menyembah berhala”. Di tuban dan Gresik banyak orang cina, dari Gresik ia berlayar ke Surabaya. Dari situ ia harus naik perahu melalui sungai brantas ke pedalaman dan mendarat dicanggu. Dari canggu orang harus berjalan ke arah selatan dan sampailah di ibukota majapahit. Kota itu dikelilingi tembok bata yang tinggi, penduduknya sekitar 300.000 orang.


Facebook Twitter

Sponsored Ads
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *