Sifat Koligatif Larutan Elektrolit

Sifat Koligatif Larutan Elektrolit – Penurunan titik beku dan kenaikan titik didih larutan elektrolit lebih besar dibandingkan dengan larutan non-elektrolit walaupun molaritas kedua larutan itu dibuat sama. Mengapa demikian?

Bila gula pasir (non-elektrolit) dilarutkan kedalam air, maka gula pasir akan terurai membentuk molekul-moekul gula. Dengan kata lain, bila satu mol gula pasir dilarutkan kedalam air akan terdapat satu mol molekul gula pasir dalam larutan itu.

C12H22O11(s) → C12H22O11(aq)

Lain halnya bila satu mol garam dapur (NaCl, eelektrolit) dilarutkan kedalam air, garam tersebut akan terurai menjadi ion Na+ dan ion Cl.

NaCl(s) → Na+(aq) + Cl(aq)

Jika satu mol garam dapur dilarutkan kedalam air akan terbentuk satu mol ion Na+ dan satu mol ion Cl atau terbentuk dua mol ion garam tersebut. Jadi untuk larutan elektrolit, sifat koligatif larutan selalu lebih tinggi dibandingkan dengan larutan non-elektrolit

Menurut terhitungan, besarnya penurunan titik beku dan kenaikan titik didih sebanding dengan jumlah mol zat terlarut. Jika satu molal gula pasir dapat meningkatkan titik didih sampai 1,86oC, maka untuk larutan garam dapur kenaikan titik didihnya menjadi 2 x 1,86oC atau 3,72oC.

Untuk larutan satu molal MgCl2 , kenaikan titik didih menjadi tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan satu molal larutan gula pasir, sebab dalam larutan terbentuk tiga mol ion masing-masing satu mol ion Mg2+ dan dua mol ion Cl. persamaan ionnya:

MgCl2(s) → Mg2+ (aq) + 2Cl(aq)

Untuk larutan elektrolit lemah, seperti asam asetat CH3COOH, asam hidro fluorida, HF, dan sejenisnya, penurunan titik beku dan kenaiakan titik didih berkisar diantara larutan elektrolit dn larutan non-elektrolit, karena hanya sebagian kecil zat terlarut yang terionisasi.

Hubungan antara jumlah mol zat terlarut dan jumlah mol ionik yang terdapat dalam larutan telah dipelajari oleh van Hoff, hasilnya dinyatakan sebagai faktor van Hoff yang dilambangkan dengan (i), yaitu:

nilai

Nilai (i) untuk garam-garam yang dapat dihitung dengan cara menentukan jumlah ion-ion per satuan rumus. Misalnya NaCl memiliki nilai (i) = 2; K2SO4 memiliki nilai (i) = 3; dan seterusnya. Nilai hitungan ini di asumsikan bahwa ketika garam dilarutkan kedalam air terjadi ionisasi sempurna membentuk ion-ionnya.

Namun demikian asumsi ini tidak selalu benar sebab, walaupun garam-garam itu terionisasi sempurna tetapi diantara ion-ion itu masih dapat berinteraksi satu sama lain, sehingga seolah-olah tidak terionisasi. Makin besar konsentrasi garam yang dilarutkan, makin tinggi pula terjadinya penyimpangan dari hasil perhitungan.

Contoh, hasil percobaan menunjukan bahwa penurunan titik beku larutan NaCl 0,10 m lebih besar 1,87 kali dibandingkan dengan larutan glukosa untuk jumlah molal yang sama. Menurut perhitungan, nilai (i) untuk NaCl seharusnya 2 kali lebih besar dari larutan gula. Hal itu terjadi karena adanya pasangan ion-ion di antara ion-ion. Akibat dari pasangan ion-ion (ionic pairing) tersebut yang menimbulkan penyimpangan dari hasil perhitungan yang ditunjukan pada tabel.

tabel van hoff

Disamping itu, perbedaan nilai (i) antara hasil hitungan dan hasil amatan dapat terjadi karena asosiasi antar partikel-partikel zat terlarut dalam larutan. Contohnya, larutan asam benzoat 1,0 molal menghasilkan penurunan titik beku larutan sedikit lebih besar dari 0,93oC sebagai akibat dari asosiasi dua mlekul asam benzoat melalui ikatan hydrogen membentuk satu dimmer.

van Hoff

van Hoff

Faktor van Hoff berlaku untuk semua sifat koligatif larutan yang meliputi penurunan titik beku, kenaikan titik didih, penurunan tekanan uap, dan tekanan osmotik larutan.


Facebook Twitter

Sponsored Ads
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *