Perkembangan Agama Hindu-Budha di Asia

India telah mendirikan perdagangan, hubungan budaya dan politik dengan kerajaan Asia Tenggara di Burma, Thailand, Indonesia, Semenanjung Malaya, Kamboja dan, pada tingkat lebih rendah, Vietnam.

Perkembangan Agama Hindu di Asia

Agama Hindu di India mengalami perkembangan pesat pada abad ke-4, yakni pada jaman pemerintahan dinasti Gupta. Salah satu keturunan Gupta yang terkenal ialah Samudra Gupta, yang memerintah kerajaan sejak tahun 330 sampai dengan 375 Masehi. Samudra Gupta banyak memajukan kesenian dan kebudayaan.

Sebagai pemeluk setia Hindu Samudra menciptakan lambang negara berupa burung garuda yang merupakan kendaraan bagi Dewa Wisnu. Selain itu ia menetapkan agama Hindu sebagai agama negara. Untuk meluaskan penyebaran agama Hindu Samudra Gupta memperbanyak pembangunan kuil-kuil dan bihara-bihara. Sejak jaman itulah agama hindu mencapai jaman keemasan.

Sekitar tahun 1.500 SM, bangsa Dravida sebagai penduduk asli india yang berada di India Selatan dikuasai oleh bangsa Arya. Kedua bangsa tersebut kemudian saling bercampur dan melahirkan kebudayaan dan agama Hindu.

Pada tahun 350 Masehi agama Hindu berkembang di berbagai wilayah (negara), sepert ke Vietnam, Myanmar, Semenanjung Malaya, Kamboja dan sampai ke Indonesia, yaitu ke kerajaan Kutai dan Tarumanegara.

Dalam masyarakat pada masa Hindu dikenal pembagian golongan (tingkatan atau derajat) yang disebut kasta. Tujuan pembuatan kasta adalah untuk menjaga kemurnian keturunan masing-masing bangsa. Setiap kasta mempunyai kedudukan yang sangat tajam batas-batasnya. Kasta ditentukan oleh asal-usul kelahiran.

Dalam agama Hindu terdapat empat kasta, yaitu ;

  • Kasta Brahmana (Golongan Pendeta)
  • Kasta Ksatria (golongan raja dan bangsawan)
  • Kasta Wesya (golongan pedagang dan buruh menengah)
  • Kasta Sudra (golongan petani)
  • Golongan masyarakat kecil hina dina, tidak termasuk kasta disebut golongan Paria.

Kitab suci agama Hindu adalah Weda, yang berarti pengetahuan. Terdiri atas sebagai berikut ;

  • Ragwenda, berisi pujian terhadap Dewa
  • Samaweda, berisi nyanyian untuk para dewa
  • Yajurweda, berisi doa-doa kepada para dewa
  • Atharwaweda, berisi mantra-mantra untuk sihir

Kitab suci yang lain adalah kitab Brahmana dan kitab Upanisad.

Sistem kepercayaan       : polytheisme (menyembah banyak dewa).

Nama-nama Dewa          : Trimurti, terdiri atas Brahma (dewa pencipta), Wisnu (dewa pemelihara), Syiwa (dewa perusak)

Inti ajaran agama Hindu                :

  • Karma, perbuatan baik dan perbuatan buruk
  • Reinkarnasi, yaitu penjelmaan kembali kehidupan manusia sesuai karmanya
  • Moksa, yaitu tingkatan hidup tertinggi.

Tempat yang dianggap suci Sungai Gangga dan sungai Benares,

Dalam masyarakat Hindu Bali terkenal peringatan Nyepi, Galungan, dan Saraswati. Di Bali terkenal upacara ngaben, yaitu upacara pembakaran jenajah seorang penganut Hindu. Pembakaran jenajah dilakukan agar seseorang yang mati dapat terlepas rohaninya dari jasmaninya. Abu jenajah hasil Ngaben dibuang ketempat suci, seperti Pantai Kuta, Pantai sanur dan tempat-tempat lainnya di daerah Bali.

Perkembangan Agama Budha di Asia

Agama Budha muncul pada abad ke-6 SM. Tokoh yang pertamakali menyebarkan agama Budha adalah Sidharta Gautama yang merupakan putra mahkota dari Sudhodana raja kerajaan Kavilawastu (India Utara). Kemewahan dalam lingkungan kerajaan tidak membuat Sidharta Gautama terlarut dalam kehidupan duniawi. Akhirnya Sidharta meninggalkan istana, berta di bawah pohon Boddhi. Di sinilah Sidharta mulai memperoleh penerangan, selanjutnya tempat tersebut dinamakan Bodh Gaya. Selanjutnya Sidharta Gautama memulai khotbah pertama di Taman Rusa.

Ajaran Budha disebut “dharma”. Kitab suci umat budha adalah Tripitaka (tiga keranjang), berisi winayapittaka (tentang peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup pemeluknya), Abhidarmapittaka (tentang penjelasan dan kupasan masalah agama), dan Sutrapittaka (tentang wejangan-wejangan dan dogma-dogma tindakan Budha dalam cinta kasih.

Didalam agama budha tidak dikenal kasta. Agama budha memiliki dua aliran, yaitu Budha Mahayana (kendaraan besar) dan Budha Hinayana (kendaraan kecil). Tempat-tempat suci agama Budha antara Taman Lumbini (tempat kelahiran sang Budha), Bodh Gaya (tempat pertama kali sang budha memperoleh peneragan), Samath (tempat pertama kali sang Budha melakukan khotbah) dan Kusinagara (tempat makam sang Budha).

Perkembangan pesat agama Budha mencaai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Ashoka Vardhana (273 — 232 SM). Raja Ashoka menjadikan agama Budha sebagai agama resmi negara dan pemerintahan di kerajaan Magadha. Ia banyak mendirikan stupa, stupa yang terkenal terdapat di Sancji.

Sekitar abad ke-5 agama Budha berkembang ke Asia, Tenggara, yaitu ke Birma dan Muang Thai. Di Asia Timur agama Budha berkembang ke Korea. Pada abad ke-7 agama Budha mengalami perkembangan pesat di Jepang.

Perkembangan agama Budha di Indonesia berlangsung di kerajaan Sriwijaya semenjak abad ke-6. Mulai saat itu Sriwijaya menjadi pusat perkembangan agama Budha ke seluruh Nusantara.

Dalam kaitannya dengan memperkenalkan agama Budha, kebudayaan ternyata mempunyai peran yang sangat penting. Raja-raja di daerah pedalaman sengaja mendatangkan para guru atau pendeta Hindu-Budha untuk mengajarkan agama dan mengenalkan seni budaya. Mereka ditempatkan di istana kerajaan dengan pelayanan yang cukup baik.

Di samping itu tidak sedikit para pemuda Indonesia yang mendatangi langsung pusat-pusat keagamaan itu seperti ke Malandu di India. Dengan semakin luasnya hubungan-hubungan kebudayaan, maka lahirlah perubahan kebudayaan dalam masyarakat Indonesia. Adapun pengaruh Hindu-Budha terhadap orang-orang Indonesia dapat dilihat dari cara berpakaian, tata krama perkawinan, perayaan hari-hari besar agama, sistem penanggalan serta bentuk-bentuk budaya lainnya.


Facebook Twitter

Sponsored Ads
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *