Apa Saja Ciri-ciri Wilayah Formal dan Fungsional

1. Ciri Wilayah Formal (Uniform Region)

Wilayah yang dicirikan berdasarkan keseragaman atau homogenitas tertentu. Misalnya berdasarkan kriteria fisik atau alam maupun kriteria sosial budaya.

  • Wilayah formal berdasarkan kriteria fisik didasarkan pada kesamaan topografi, jenis batuan, iklim, dan vegetasi. Misalnya wilayah pegunungan kapur (karst), wilayah beriklim dingin, dan wilayah vegetasi mangrove.
  • Wilayah formal berdasarkan kriteria sosial budaya misalnya wilayah suku Banjar, wilayah industri tekstil, dan wilayah pertanian sawah basah.

Selain itu, wilayah formal meemiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tipe homogenitas, disebut juga homogeneus region, formal region, uniform region.
  • Bersifat statis.
  • Tidak aktif.
  • Terbentuk karena adanya keseragaman (kesamaan baik kriteria fisik atau sosial).
  • Wilayah inti umumnya terdapat di bagian tengah.

2. Ciri Wilayah Fungsional (Nodal Region)

Wilayah yang dicirikan dengan kegiatan yang saling berhubungan antara beberapa pusat kegiatan secara fungsional. Misalnya wilayah Jabodetabek secara fisik memang berbeda (heterogen), namun secara fungsional saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan hidup di setiap wilayah.

Ciri-ciri wilayah fungsional:

  • Tipe hegeronitas, disebut juga functional region, organic region, nodus region.
  • Bersifat dinamis.
  • Aktif.
  • Terbentuk karena adanya kesamaan kenampakan.
  • Merupakan sebuah wilayah yang difungsikan.
  • Ada arus barang, gagasan, dan manusia.
  • Punya pusat kegiatan yang berhubungan dengan wilayah sekitar.
  • Pusat menjadi pusat pertemuan arus barang, gagasan, dan manusia secara terorganisasi.
  • Ada jaringan jalan tempat berlangsungnya tukar-menukar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *